Combine Bekerja, Pertanda Tanaman Padi Mulai Dipanen  

Tulangbawang, andalascermin.desa.id – Saat terlihat beberapa Combine (mesin panen padi) mulai bekerja di persawahan, hal itu menunjukkan bahwa tanaman padi petani Kampung Andalas Cermin mulai memasuki masa panen.

Panen Padi mulai Oktober hingga puncaknya November 2018 merupakan masa panen di seluruh daerah pertanian di Rawa Pitu. Sehingga stok pangan khususnya di kecamatan Rawa Pitu terbilang aman.

Rata-rata pendapatan panen dalam setiap hektarnya mencapai 6-7 ton padi tersebut saat ini sudah tidak dipanen dengan cara tradisional yaitu diambil per ikat dengan menggunakan sabit oleh para petani, melainkan dipanen dengan menggunakan mesin pemanen padi atau disebut Combine.

Combine atau Combine harvester adalah alat pemanen padi yang dapat memotong bulir tanaman yang berdiri, merontokkan dan membersihkan gabah sambil berjalan dilapangan persawahan. Dengan demikian waktu pemanen lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan tenaga manusia (manual) serta tidak membutuhkan jumlah tenaga kerja manusia yang besar seperti pada pemanenan tradisional.

Combin merupakan suatu alat yang praktis untuk digunakan dimana alat ini mempunyai tiga fungsi yakni memotong ,merontokkan dan mengemaskan padi. Secara umum fungsi operasional dasar combine harvester adalah sebagai berikut :

  • Memotong tanaman yang masih berdiri.
  • Menyalurkan tanaman yang terpotong ke selinder.
  • Merontokkan gabah dari tangkai atau batang.
  • Memisahkan gabah dari jerami.
  • Membersihkan gabah dengan cara membuang gabah kosong dan benda asin

Keunggulan dalam penggunaan mesin modern Combine ini ialah waktu yang relative lebih efisien yaitu hanya berkisar 2-3 jam waktu penyelesaian 1 hektar, termasuk pengangkutan oleh tim ojek padi dari sawah menuju rumah pemilik padi dengan ongkos Rp. 3000,00 hingga 5000,00 per karung. Adapun penggunaan alat ini memerlukan investasi yang besar dan tenaga terlatih yang dapat mengoprasikan alat ini.

Hasil panen padi ada yang dijadikan sebagai stok makan atau ada pula yang dijual. Sebagian besar petani yang penen di awal musim panen menjual padinya karena harga padi di awal musim masih memiliki harga yang cukup tinggi, namun ada  pula yang tidak menjualnya.

Seperti halnya pak Tardi, salah satu petani padi yang panen di awal musim, memilih menjemur padinya untuk stok pangan keluarganya.

“Walaupun harga padi mahal sekarang RP. 450.000,00 per kintalnya, saya nggak mau jual. Biar untuk stok makan saja.” Katanya. (10/10)

Facebook Comments

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan