BERLANGGANAN BANJIR TAHUNAN, DESA ANDALAS CERMIN BUTUHKAN PINTU AIR

menggunakan sampan menuju salah satu rumah warga

Andalascermin.desa.id-Genap 24 hari Sejak  11 Maret 2018 hingga hari ini Selasa, 03 April 2018 banjir di desa Andalas Cermin belum juga berakhir. Walaupun air di sebagian wilayah barat desa misalnya jalan pasar, sudah mulai terlihat berangsur-angsur surut 0,2 meter dari 1,5 meter ketinggian genangan air banjir, namun air kembali naik saat hujan turun, sedangkan hujan masih terus terjadi setiap harinya. Adapun wilayah timur desa sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda air surut karena genangan air mengalami pengendapan atau tidak dapat dilakukan pembuangan melalui saluran irigasi sekunder atau siring.

Banjir  yang terjadi, walaupun terkesan bukan hal yang aneh karena bukan pertama kalinya terjadi, Warga desa sudah mulai terlihat sangat letih dengan keadaan banjir yang menimpa ini, banjir di desa Andalas Cermin terjadi hampir pada setiap tahunnya dan terjadi banjir besar hampir pada 5 tahunan sekali. Akibat banjir yang melanda tersebut tentu sangat mempengaruhi keadaan sosial masyarakat maupun perputaran ekonomi desa Andalas Cermin. Potret akibat banjir menyebabkan banyak hal tidak berjalan normal sebagaimana biasanya, diantaranya adalah:

  1. Pindahnya tempat belajar siswa di tenda-tenda darurat dan di fasilitas-fasilitas umum misalnya balaidesa, Masjid, gedung TPA, maupun di rumah-rumah warga yang tidak terendam air.
  2. Dikosongkannya pasar mingguan desa Andalas Cermin dipindahkan lokasi pasar di jalan tanggul menjadi pasar templek mingguan dengan keterbatasan perlengkapan dan lokasi dagang seadanya.

    Pasar darurat desa Andalas Cermin saat banjir

  3. Gagal panen pada sebagian besar pertanian padi dan hanya sedikit sekali yang dapat menuai hasil panennya, itupun saat proses panen didapatkan dengan cara yang lebih sulit dari biasanya, yaitu yang biasanya dengan menggunakan alat berat bernama Kombet, hanya bisa dipanen dengan cara manual diarit menggunakan sabit. dan harus berpuluhan meter memindahkan hasil potongan tangkai padi untuk di tleser menjadi padi.

    Padi ditarik mengggunakan sampan Terapal

  4. Anjlok harga jual padi  yaitu yang semula padi di jual dengan harga Rp.480.000 per kwintal, saat ini hanya dihargai Rp. 250.000 per kwintalnya.

    sulitnya evakuasi panen padi

  5. Matinya pepohonan, baik pohon pangan misalnya: singkong, belimbing, pohon pisang, pohon rambutan, sayur-sayuran, maupun pepohonan tanaman hias misalnya tanaman bunga.
  6. Berhentinya kegiatan menyadap karet sebagai penghasilan warga desa Andalas Cermin karena curah hujan tinggi dan genangan air terlalu dalam di wilayah perkebunan.
  7. Berpindahnya tempat tinggal warga dari rumah-rumah yang ada di jalur-jalur beralih ke  tenda-tenda darurat di jalan utama tanggul, maupun bagi yang memiliki sanak saudara, dapat mengungsi ke desa atau  wilayah lain yang tidak terkena banjir.
  8. Kenyamanan dan kesehatan warga yang cukup terganggu.
  9. Rusaknya jalan-jalan pada tanggul dan jalan jalur karena tetap menjadi lalu lintas warga walaupun terendam air, sehingga timbunan tanah merah sedikit demi sedikit hilang karena hanyut terbawa arus air.
  10. Dijebolnya jalan tanggul poros untuk pembuangan arus air.

Membuat pintu air darurat

Seolah jera, di samping keterbatasan kondisi yang terjadi saat banjir melanda setiap tahunnya, sepanjang itu pula seluruh warga desa terutama pemerintah desa memikirkan dan mengusahakan cara agar tidak terulang banjir-banjir pada tahun mendatang. Apalah daya para pemerinta kecil (pemerintah desa) yang memang sangat  perlu mendapat dukungan dan bantuan dari pemerintah pusat dalam pemecahan masalah banjir tahunan ini karena memang solusi tersebut  sangat tidak mudah untuk direalisasikan. Warga desa andalas cermin membutuhkan bendungan yang memiliki pintu air untuk mengatur keluar masuknya air yang mengalir dan mengalir ke pemukiman penduduk desa Andalas Cermin.

 

Facebook Comments

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan